Flight Trip, Siapa Takut!

“Terbang? Gak mau…Takut”

Kata diatas sering terdengar kala seorang yang akan melakukan trip untuk pertama kalinya ditawarkan untuk naik pesawat. Terutama bagi mereka yang memang dihasut oleh orang-orang awam bahwa naik pesawat itu berbahaya. Ditambah lagi pemberitaan kecelakaan pesawat lebih heboh daripada kecelakaan mobil dan kapal. Padahal orang yang menghasut sendiri tidak pernah menumpang dipesawat.

Faktanya, kecelakaan pesawat lebih jarang terjadi dibanding kecelakaan mobil atau kendaraan darat lainnya. Seingat saya, kecelakaan besar pesawat komersil terakhir yang terjadi di Indonesia adalah  Air Asia QZ580 pada tahun 2014. Tepatnya 2 tahun lalu dari tulisan ini. Setelah itu? Mungkin kejadian pesawat Hercules di sumatera utara bisa dikatergorikan kesini, tapi perlu diketahui Hercules adalah pesawat militer dan kamu tidak perlu menumpang pesawat itu.

Flight atau Terbang adalah cara teraman untuk sampai ketujuan saat ini. Dengan jumlah kecelakaan yang sedikit berbanding dengan aktifitas udara yang sangat banyak maka disimpulkan bahwa terbang adalah kendaraan teraman. Namun, tetap saja segalanya ada dalam kehendak Allah. Jika Allah berkehendak sebuah pesawat selamat maka seburuk apapun pesawatnya itu akan tetap selamat.

Flight juga merupakan cara tercepat mencapai tujuan. Suatu tempat yang bisa ditempuh dalam 4 hari melalui darat, akan berjarak 3 jam dengan pesawat terbang. Mengapa demikian? Simple saja, Pernah mendengar Macet total dilangit? Atau pernah mendengar antrian Mobil dilangit? Atau pernahkah mendengar ada perbaikan rute pesawat sehingga mengganggu perjalanan kamu? Jawabannya jelas tidak. Jika ada berita seperti itu, maka pembawa berita sedang membuat lelucon, hiraukan saja. Dan sebuah pesawat bisa terbang dengan velocity 300 km/h, secepat Formula 1.

Banyak keuntungan dari Flight trip selain cepat dan Aman. Kenyamanan juga menjadi satu alasan. Pesawat komersil pasti menyediakan kursi yang nyaman untuk kamu, Airport pasti memberikan tempat menunggu yang tidak ada hawa panas, dan terkadang harga tiket pesawat bisa lebih murah dari tiket bus. Ini kenyataan, Saya pernah terbang dari kota asal saya ke Medan dengan harga tiket 295.000 sebelum pajak bandara, saat itu tahun 2014 dan pajak bandara masih diluar harga tiket. Bandingkan saja kamu pergi dengan bus yang menghabiskan satu hari plus Mabuk Darat (khusus bagi orang tertentu), kamu mesti mengeluarkan uang sebesar 250.000. Hanya selisih 45.000 rupiah, yang juga akan keluar jika kamu membeli cemilan selama naik bus.

Kamu pun tidak perlu takut mabuk udara. Karena Jet Lag(Istilah untuk mabuk udara) disebabkan oleh perpindahan zona waktu yang membuah jam dalam otak sedikit kurang sinkron. Efek dari jet lag juga tidak berbahaya, kamu hanya merasa pusing dan mengantuk. Mungkin kamu pernah melihat di beberapa film dan kartun yang menunjukkan orang mabuk saat terbang. Faktanya, orang tersebut hanya mengalami ketakutan saja hingga tubuh merasa tidak nyaman. Ini bisa hilang jika kamu sudah menajalani 3 flight.

Baiklah, Saya akan menjelaskan bagaimana penerbangan itu

sadasdasdas

Traveler sipil yang memilih Flight untuk sampai ke destinasi akan menaiki pesawat komersial. Apa itu pesawat komersial? Pesawat komersial adalah pesawat yang mengangkut manusia dengan status sipil, bukan militer dan juga bukan Kargo yang mengangkut barang. Pesawat komersial di design untuk menampung puluhan hingga ratusan orang dengan bentuk yang berbeda-beda. Bentuk pesawat komersial tentunya berbeda dengan pesawat tempur. Tempat mendaratnya pun hanya di Airport Komersial, tidak pernah ditemukan pesawat komersial mendarat di Kapal Induk USS Abraham Lincoln.

Bentuk pesawat umumnya terdiri dari Dua sayap yang dibekali Mesin yang kuat, sayap tersebut berfungsi sebagai pengatur elevasi/ketinggian, Ekor yang menjadi pengendali arah pesawat, dan komponen lain yang akan mengangkat tabung besar berisikan Manusia dan Barang. Dipandu oleh 2 orang pilot, yang senior akan dipanggil Captain dan junior akan dipanggil First Officer.

Bentuk pesawat relative sama tergantung pabrikan yang mengeluarkannya. Hingga hari ini, terdapat puluhan pabrikan pesawat komersil yang terkenal seperti Boeing, Airbus, Sukhoi, Bombardier dan Antonov. Di Indonesia sendiri pesawat komersil didominasi oleh Boeing dan Airbus. Apa yang membedakan mereka? Saya akan membahas secara khusus tentang perbedaan pabrikan pesawat dan tipenya. Tapi secara umum mereka berbeda soal fitur dan ukuran, sebagai contoh Airbus lebih rendah dibandingkan Boeing.

Pesawat komersil mampu terbang dengan kecepatan 400 km/h lebih pada saat sebelum Cruise(berada pada ketinggian target),  dan saat Cruise pesawat umumnya berkecepatan 200 km/h hingga 350 km/h sesuai kondisi langit. Ketinggian yang diizinkan untuk pesawat komersil adalah 45.000 kaki, semakin tinggi pesawat terbang semakin aman pula penerbangan itu. Pesawat menggunakan bahan bakar avtur dengan mesin yang kuat.

Urutan penerbangan pesawat adalah Taxi yaitu pesawat lepas dari terminal (tempat menunggu penumpang) menuju runway. Setiba di runway dan Pusat pemantau memastikan tidak ada pesawat yang akan mendarat, Pilot akan melakukan Take Off yaitu menerbangkan pesawat. Pilot akan terus memacu laju pesawat hingga tiba di posisi Cruise pada ketinggian diatas 27.000 kaki. Ketika dalam posisi Cruise Auto Pilot akan dihidupkan dan Pesawat akan terus terbang hingga tujuan yang telah di set melalui computer. Pilot akan kembali mengambil alih kemudi jika terdapat pergeseran rute saat terjadi cuaca buruk. Ketika hendak melakukan Landing Pilot memiliki tanggung jawab penuh hingga pesawat berhenti dan kamu turun.

Lantas, kenapa tidak terjadi macet atau tabrakan di Langit?

Setiap pesawat memiliki rute dan ketinggian yang berbeda. Tidak ada pesawat yang terbang bersamaan melalui satu bandara dengan destinasi yang sama, sekalipun bandara itu sangat sibuk. Interval waktu ini membuat pesawat tidak mungkin saling bertemu, dan sangat konyol jika pilot melakukan kebut-kebutan dengan pilot lainnya.

Sekalipun pesawat itu akan berada pada jalur yang bersilangan seperti pada ilustrasi dibawah, pesawat tetap tidak bertabrakan karena ketinggian mereka berbeda.  Semua rute, ketinggian dan interval waktu ini diatur dengan detail oleh ATC(air traffic control) dan Radar besar disuatu Negara. Jadi jangan bayangkan ada kemacetan dilangit.

Mitos-mitos dan tips lainnya akan saya jelaskan pada tulisan selanjutnya. Saya simpulkan bahwa Flight Trip adalah cara terbaik untuk mencapai destinasi. Sekalipun Flight Trip biasanya lebih mahal, tapi itu merupakan harga yang pantas kamu keluarkan untuk waktu tempuh dan kenyamanan.

So, Jangan takut terbang

Flight is Fun

About ibnuhisham94 25 Articles
Traveller Muda dengan pengalaman sedikit

2 Comments

  1. Hi there would you mind stating which blog platform you’re
    using? I’m going to start my own blog in the near future but I’m having a difficult time making a
    decision between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.

    The reason I ask is because your design seems different then most blogs and I’m
    looking for something completely unique.
    P.S Apologies for getting off-topic but I had to ask!

    • I recommend you to use WordPress, WP has plugin that will helps your webpage indexed in google page. And WordPress is easy to build. No matter you have any html knowledge or not.

      WordPress is highly recommended

1 Trackback / Pingback

  1. Mitos terkait penerbangan dan Faktanya | SAFAR GUIDE

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*