Trip dan Safar

Manusia, makhluk yang cepat bosan jika berada di tempat yang sama dalam waktu lama. Semua orang pasti merasa jenuh jika hanya melihat bangunan yang sama, jalan yang sama, atau makanan yang itu-itu saja. Setiap pagi tentunya seseorang akan melalui jalan yang sama menuju tempat kerjanya, sekolah atau universitas, melakukannya berulang-ulang, hingga dengan menutup mata pun dia akan sampai ke tujuan. Kemudian siang harinya dia akan memakan masakan yang relatif sama, lalu kembali ke aktifitas yang sama dan sepanjang hari tentunya dia menghirup udara yang sama. Rasa jenuh pasti merasuk kedalam tubuhnya dan jika dibiarkan maka rasa jenuh itu akan membunuhnya. Semua orang butuh penyegaran atau refreshing, wajar saja semua orang senang dengan kata besok LIBURAN.

Refreshing bisa ditempuh dengan beberapa cara yang tentunya sesuai dengan aturan Islam. Salah satunya dengan Trip atau Safar, dalam pemahaman sederhana disebut Jalan-jalan. Trip atau Travel adalah dua kata yang terdapat dalam Kamus Bahasa Inggris dimaknai dengan Perjalanan dalam bahasa Indonesia. Jika dipahami lebih dalam Trip itu adalah kegiatan memindahkan Tubuh beserta Jiwa ke tempat di luar aktifitas biasa, kurang lebih begitulah penjelasannya. Trip dalam bahasa arab dinamakan Safar atau Rihlah, So Safar itu artinya jalan-jalan juga namun terdapat beberapa batasan minimal hingga dinamakan Safar. Intinya Trip adalah salah satu bentuk usaha menghindari kebosanan hidup. Bahkan ini merupakan cara paling ampuh.

Tidak ada kriteria khusus hingga jalan-jalan itu disebut trip atau safar, tapi safar dalam pengertian fiqh islam sendiri punya standar. Pergi ke taman pun bisa disebut tripping. Namun, idelanya sebuah Travel adalah berpindah dari satu zone ke zone lainnya yang jarang kita datangi. Sebagai contoh, Fariq pergi ke sebuah kampung yang belum pernah dia singgahi, kampung itu sebenarnya sering dia lewati saat menuju tempat kerja tapi pada kesempatan ini dia singgah dan berada disana untuk beberapa saat. Dengan contoh kasus diatas Fariq sedang melakukan tripping dengan pengertian terkecil dari tripping.

By the way, salah satu tujuan Trip untuk membebaskan sedikit beban dari kepala, bukan menambah nya. Maksudnya jangan sampai sebuah perjalanan membuat beban pikiran bertambah seperti perjalanan yang menghabiskan persediaan hidup. Maka sangat perlu memperhatikan muatan dompet dan rekening sebelum melakukan safar. Tentu sangat menakutkan jika setelah perjalanan dompet menjadi tipis dan rekening bobol. Kecuali, salah satu dari kalian ingin melakukan insane backpacking trip. Dengan tripping seseorang akan menemui suasana baru, makanan baru, kenalan baru, pada akhirnya akan terbentuk new comfort zone. Sekali lagi, refreshing merupakan optional objective bukan main objective dari Trip.

The real goal of Travelling adalah memperhatikan kebesaran Pencipta Alam. Bumi yang telah diciptakan luas ini mesti ditapaki seluruhnya(semampunya, jangan dipaksakan). Tujuan utama yang hakiki ini sering ditinggalakan para traveller muslim, andai saja mereka meniatkan trip mereka dengan ini, Trip bukan saja menyenangkan tapi juga berpahala selama tidak ada maksiat di dalamnya. Tujuan Safar ini telah dilalui oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang dimasa sekarang, walaupun sangat sedikit. Tidak dipungkiri dalam setiap Perjalanan terdapat kesulitan yang membuat perjalanan itu Indah, tapi kesulitan yang bertubi-tubi dan tidak berhenti bukanlah sebuah keindahan melainkan sebuah Bencana. Sedikit yang menyadari jika tujuan Safar itu lurus dan benar maka Trip Disaster itu tidak akan muncul dan Obstacles(rintangan) sepanjang perjalanan akan terbantu dengan Solusi dari Allah.

Trip tidak hanya dilakukan oleh para Petualang dan Para Penakluk dizaman dahulu. Perlu digaris bawahi Rasulullah SAW sendiri melakukan Trip bahkan International Trip pada usia yang sangat muda yaitu 12 tahun. Para Sahabat juga melakukannya, sebut saja Tamim Ad-Dari dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Para Ulama Zaman Klasik juga melakukan Safar baik dengan tujuan berpindah tempat tinggal ataupun menuntut ilmu. Dan Catatan Travelling terkenal bernama Ar-Rihlah Ibnu Batutah adalah goresan pena seorang ulama Muslim bernama Ibnu Batutah. Jadi, sangat aneh jika ada seorang muslim yang mengatakan bahwa Trip atau Safar bukanlah hal penting dan sebaiknya tidak dilakukan karena kan menghabiskan uang dan tenaga. Imam Syafi’i sendiri pernah menulis syair tentang Safar dan sangat menyarankannya.

Dapat disimpulkan bahwa Trip adalah sebuah perjalanan yang membuat beban pikiran sedikit terlepas tanpa melanggar batasan-batasan syariah dan mestinya bertujuan untuk memahami dan menghayati kebesaran Allah SWT.

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Traveller hampir yang hampir gagal

About ibnuhisham94 25 Articles
Traveller Muda dengan pengalaman sedikit

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*